• Promo Update

    Selamat datang di WWW.MAINQQ.COM | Mainqq hadirkan game terbaru SAKONG | Bonus Referral 20% | Cashback 0.5% dibagikan setiap minggunya | Link alternatif » ♣ WWW.MAINQIU.COM | ♠ WWW.IDMAINQQ.COM

    Ngilu! Fotografer Ini Abadikan Foto-foto Kehidupan Masyarakat Miskin di Negeri Ginseng


    Seorang fotografer Korea Selatan, Sim Kyudong (29) mengabadikan foto-foto yang diambilnya ini menceritakan kisah rakyat Korea yang miskin, banyak bekerja dan terisolasi tinggal di unit rumah, yang disebut "goshiwon".

    Korea Selatan memang surganya para boyband dan girlband. Dunia hiburan Negeri Ginseng itu semakin melejit setelah hallyu wave menyerang berbagai negara.

    Mulai serial drama, film, musik, hingga reality show mereka telah dinikmati penggemar di seluruh dunia.
    Di dalam, ruang pada dasarnya memiliki meja, tempat tidur, dan lemari dengan kamar mandi umum dan dapur untuk semua penduduk. Ada juga luas yang biasa disebut goshitel (goshiwon + hotel), meskipun ada ribuan goshiwons / goshitels tersebar di seluruh Korea Selatan, namun sebagian besar ada di Seoul.

    Masyarakat tersebut hidup dalam rumah susun (goshitel) yang kumuh dan begitu sempit. Mereka harus membayar 220 ribu Won atau sekitar Rp 2,5 juta sebulan.


    Di Korea Selatan, nominal itu termasuk sangat murah dibanding tempat tinggal lain. Sim Kyudong sendiri sempat tinggal di goshitel selama 3 tahun saat berada di Seoul. Ia bertemu berbagai jenis orang saat menetap di sana, satu diantaranya adalah seorang guru matematika.


    Sim mengungkapkan, guru matematika itu kira-kira berusia 50-an, ia pintar dan lulusan universitas ternama.

    Namun semakin tua, status dan nilainya sebagai guru matematika semakin menurun. Guru-guru yang masih muda dan tak kalah cerdas lah yang dinikmati oleh publik.

    Sim menjelaskan, mereka yang menetap di goshitel karena kesusahan ekonomi akan diasingkan dari masyarakat.

    “Orang-orang tak mengerti kau tinggal di goshitel karena kau tak punya pilihan,” jelasnya dilansir dari Korea Expose, Kamis (13/4/2017).

    “Mereka tak akan mengerti, aku rasa aku harus menceritakan tentang hal itu,” ujarnya.

    Insiden bunuh diri juga seringkali terjadi di goshitel gara-gara masalah ekonomi.

    Pada 2015 lalu, jasad seorang perempuan usia 20-an baru ditemukan dua minggu setelah tewas. Ia dilaporkan tewas karena kekurangan gizi dan memiliki masalah ekonomi.


    Sim mengaku mengalami depresi dan tak peduli dengan kebersihan selama tinggal di goshitel.

    “Tinggal di goshitel sepenuhnya mengubah persepsi dan cara berpikirku,” jelas Sim Kyudong.

    “Mereka orang yang tak punya pilihan, kisah mereka terlalu rumit untuk diabaikan,” katanya.

    Buku foto Sim Kyudong tentang kehidupan goshitel ini rilis di Korea Selatan pada akhir April 2017.


    "Orang-orang biasa atau kelas menengah tidak dapat banyak berbuat selain tinggal di tempat seperti itu, karena mereka tidak memiliki pilihan lain. Saya berpikir saya harus menceritakan kisah ini." jelas Sim.


    Sim mengalami depresi setelah menjalani pengalaman berada di Goshitel selama tiga tahun. Hidup di Goshitel membuat Sim menemukan kepahitan luar biasa yang dijalani para Goshitels untuk melewati hari-hari mereka.

    "Sebelumnya saya tidak terlalu simpatik dengan tunawisma, tapi setelah tinggal di Goshitel, hal itu mengubah persepsi saya sepenuhnya. Beberapa orang tidak dapat menahannya, kisah-kisah mereka terlalu rumit."

    No comments:

    Post a Comment